Kampung Kauman Sebagai Pusat Industri Batik
UNS
K4419065 GADING SASONGKO PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENGETAHUAN
PENDAHULUAN
Kampung Kauman terkenal dengan sebutan Kampung Batik Kauman karena di sana terdapat rumah-rumah industri batik khas Kauman. Disamping produk batik, Kampung Batik Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan kolonial (Indis) menjadikan Kampung Kauman sebagai salah satu tujuan wisata yang unik. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Letak Kampung Batik Kauman berdampingan dengan Masjid Agung, disebelah Barat Alun-Alun Utara. Kampung Kauman bukanlah sekedar kawasan dengan sekumpulan gedung tua, tetapi merupakan peninggalan sejarah dengan gaya arsitektur yang khas. Di Kampung Kauman dapat kita jumpai berbagai gedung dengan gaya seni Jawa tradisional, Eropa, Indis, Ekliik, India, Tionghoa, hingga Timur Tengah, yang sebagian besar telah mengalami percampuran dengan unsur-unsur kebudayaan setempat (Atmojo, 2008). Dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya bidang kajian sejarah, tempat yang mengandung peninggalan sejarah adalah sesuatu yang sangat penting karena para ahli dapat mempelajari tentang kehidupan masa lampau baik masa prasejarah maupun masa setelah manusia mengenal tulisan. Lokasi bersejarah dapat dijadikan sebagai bahan kajian baik secara umum maupun dalam dunia pendidikan. Dengan adanya bangunan-bangunan kuno yang ada di Kampung Batik Kauman, maka kawasan tersebut mempunyai nilai sejarah yang amat penting sehingga dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah yang efektif. Peserta didik dapat melihat langsung bangunan cagar budaya di Kampung Batik Kauman sebagai bukti nyata sejarah terdahulu di Surakarta. Pemanfaatan sumber sejarah tersebut tidak hanya
100
mempunyai fungsi rekreatif, tetapi juga untuk mendukung pembelajaran di sekolah terutama mata pelajaran IPS Sejarah. Kampung Batik Kauman merupakan kawasan cagar budaya sebagai salah satu bagian dari pembangunan nilai dalam pendidikan ternyata belum sepenuhnya dimanfaatkan. Keberadaan cagar budaya Kampung Kauman di kota Surakarta ini dapat dijadikan sumber belajar yang baik. Pemanfaatan wilayah cagar budaya sebagai sumber belajar belum optimal diterapkan, khususnya untuk membangun pemahaman akan identitas Surakarta sebagai kota yang bersejarah. Hal tersebut di perkuat setelah di keluarkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Benda Cagar Budaya yang dapat dijadikan sebagai warisan budaya yang bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Oleh karena itu, berbagai situs dan peninggalan yang ada tetap dijaga kelestariannya guna mempertahankan nilai-nilai sejarah dan budaya peninggalan dari nenek moyang terdahulu (Setyowati, 2004).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Deskripsi Historis Kampung Batik Kauman Surakarta Asal usul Kampung Batik Kauman berasal dari penempatan posisi tata ruang di lingkungan Keraton abdi dalem “Reh Pengulon”. Dalam kajian konsep raja kejawen, abdi dalem “Reh Pengulon” dipandang sangat strategis untuk perimbangan hidup antara unsur duniawi yang dikembangkan dalam konsep “Sargede”. Abdi dalem “Reh Pengulon” posisinya disebelah barat alun-alun dan Pasar Gede berada di sebelah timur alun-alun. Alun-alun ditafsirkan sebagai arena kehidupan baik duniawi dan akhirat yang bergumul di dalam konsep kehidupan orang Jawa. Kehidupan duniawi (pasar) dilambangkan sebelah timur alun-alun
107
karena mengambil lambang matahi terbit. Kehidupan akhirat diposisikan di sebelah barat dengan lambang matahari terbenam (Anggoro, 2008). Sejarah Kauman tidak terlepas dari Keraton Surakarta. Berdasarkan cerita dari kakek dan nenek, Kauman dahulu kawasan Reh Pengulon sebagai tempat pendidikan agama. Abdi dalem diberikan tempat di bagian barat, di sekitar Masjid Agung (Supriadi, 2 November, 2014). Reh Pengulon bertanggung jawab terhadap urusan-urusan agama termasuk melaksanakan keadilan dalam pertikaian yang terkait dengan hukum Islam. Lembaga ini dipimpin oleh Penghulu Ageng, yaitu kepala alim ulama di Masjid Agung. Penghulu diberi tugas oleh keraton untuk memimpin upacara-upacara keagamaan, berdoa untuk keselamatan raja, memberi pengajaran tentang agama Islam kepada kerabat Raja dan sebagainya (Ramdhon, 2011). Kampung Batik Kauman pada awalnya merupakan wilayah yang diperuntukkan abdi dalem Reh Pengulon. Reh Pengulon mengemban tugas dari keraton dalam bidang keagamaan. Reh Pengulon diberikan tempat tinggal di sebelah barat keraton, di dekat alun-alun utara lebih tepatnya di sebelah barat Masjid Agung. Masjid Agung merupakan pusat aktivitas keagamaan. Kauman merupakan tempat tinggal kaum ulama kerajaan dan kerabatnya yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronnoto dan kaum (abdi dalem). Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama “Kauman”. Istri para ulama diberikan pelatihan khusus dari Keraton Kasunanan untuk membuat batik. Pada akhirnya abdi dalem keraton memesan batik ke Kampung Kauman. Bermodal keterampilan membatik dari keraton, mulai berkembang pengusaha batik-batik rumahan di Kampung Kauman. Setiap hari tercium aroma khas batik di Kampung Kauman. Sampai pada tahun 1995an eksistensi batik mulai surut. Sehingga pengusaha-pengusaha batik mulai berkurang. Masyarakat berkeinginan untuk menghidupkan batik di
108
Kampung Kauman. Sehingga dibentuk sebuah paguyuban yang berperan besar dalam menghidupkan batik di Kampung Kauman. Keberadaan Kampung Batik Kauman Surakarta sebagai kelengkapan dari pembangunan Masjid Agung sebagai pusat syiar agama Islam. Masjid agung dibangun oleh PB III tahun 1757 M. Masjid dibangun raja sebagai kewajiban dalam memimpin rakyatnya. Raja dianggap sebagai Sayyidin Panatagama Khalifatullah, artinya raja sebagai pemimpin negara (kerajaan) dan pemimpin agama agar rakyat hidup damai dan sejahtera. Berdasarkan cerita dari kakek dan nenek, Kauman dahulu kawasan abdi dalem sebagai tempat pendidikan agama. Abdi dalem diberikan tempat di bagian barat, di sekitar Masjid Agung (Bp. Supriadi, 2 November 2014). Pertumbuhan Kampung Kauman dimulai dengan adanya penempatan abdi dalem pamethakan yang bertugas dalam bidang keagamaan dan kemasjidan yaitu Kanjeng Kyai Penghulu Thohar Hadiningrat (penghulu dalem ing keraton Surakarta). Penghulu bermukim di sekitar Masjid Agung. Penghulu membawahi tanah disekitar masjid yang warganya terdiri dari abdi dalem pamethakan dan ulama pembantu/ mewakili tugas penghulu. Tanah yang ditempati adalah pemberian dari Pakubuwono III dengan status tanah anggaduh, yang berarti hanya berhak menempati dan tidak punya hak milik (Pusponegoro, dkk, 2007). Letak Kampung Batik Kauman berdampingan dengan Masjid Agung, di sebelah Barat Alun-Alun Utara. Kampung Batik Kauman dahulu adalah pemasok batik di kota Solo dan Keraton. Hal ini bisa dilihat dari bentuk rumah-rumah yang mempunyai tempat untuk produksi batik sekaligus toko untuk memajang hasil produksinya. Kampung Batik Kauman mempunyai kaitan erat dengan Keraton Kasunanan Surakarta. Kauman merupakan tempat tinggal kaum ulama kerajaan dan kerabatnya yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronnoto dan kaum (abdi dalem). Masyarakat Kauman memperoleh
109
pelatihan khusus dari Keraton Kasunanan untuk membuat batik. Tradisi batik Kauman secara langsung mewarisi inspirasi membatik dari Keraton Kasunanan Surakarta. Masyarakat Kauman mampu menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga Keraton. Abdi dalem mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga kraton (Wawancara, agus, 20 Oktober 2014).
Kesimpulan
a. Kampung Batik Kauman termasuk dalam wilayah Kelurahan Kauman. Kelurahan Kauman terletak di sisi barat depan alun-alun utara. Secara administratif Kauman termasuk wilayah Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Luas wilayah Kelurahan Kauman adalah 20,10 Ha. Kampung Batik Kauman berbatasan dengan jalan Slamet Riyadi di sebelah utara yang merupakan jantung kota Solo. Di sebelah timur berbatasan dengan jalan Pakubuwono, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan jalan Yos Sudarso. Bagian
116
selatan kampung kauman berbatasan dengan jalan Dr.Radjiman. Kauman dahulu kawasan abdi dalem sebagai tempat pendidikan agama. Abdi dalem diberikan tempat di bagian barat, di sekitar Masjid Agung. Kampung Kauman berdiri bersamaan dengan Masjud Agung oleh PB III. Para istri dari abdi dalem di beri tugas dari keraton untuk membuat batik keraton. Keterampilan membatik di dapat dari keraton melalui pelatihan khusus.
uns.ac.id
fkip.uns.ac.id
jurnal.uns.ac.id
wcu.uns.ac.id
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
K4419065 GADING SASONGKO PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENGETAHUAN
PENDAHULUAN
Kampung Kauman terkenal dengan sebutan Kampung Batik Kauman karena di sana terdapat rumah-rumah industri batik khas Kauman. Disamping produk batik, Kampung Batik Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan kolonial (Indis) menjadikan Kampung Kauman sebagai salah satu tujuan wisata yang unik. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Letak Kampung Batik Kauman berdampingan dengan Masjid Agung, disebelah Barat Alun-Alun Utara. Kampung Kauman bukanlah sekedar kawasan dengan sekumpulan gedung tua, tetapi merupakan peninggalan sejarah dengan gaya arsitektur yang khas. Di Kampung Kauman dapat kita jumpai berbagai gedung dengan gaya seni Jawa tradisional, Eropa, Indis, Ekliik, India, Tionghoa, hingga Timur Tengah, yang sebagian besar telah mengalami percampuran dengan unsur-unsur kebudayaan setempat (Atmojo, 2008). Dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya bidang kajian sejarah, tempat yang mengandung peninggalan sejarah adalah sesuatu yang sangat penting karena para ahli dapat mempelajari tentang kehidupan masa lampau baik masa prasejarah maupun masa setelah manusia mengenal tulisan. Lokasi bersejarah dapat dijadikan sebagai bahan kajian baik secara umum maupun dalam dunia pendidikan. Dengan adanya bangunan-bangunan kuno yang ada di Kampung Batik Kauman, maka kawasan tersebut mempunyai nilai sejarah yang amat penting sehingga dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah yang efektif. Peserta didik dapat melihat langsung bangunan cagar budaya di Kampung Batik Kauman sebagai bukti nyata sejarah terdahulu di Surakarta. Pemanfaatan sumber sejarah tersebut tidak hanya
100
mempunyai fungsi rekreatif, tetapi juga untuk mendukung pembelajaran di sekolah terutama mata pelajaran IPS Sejarah. Kampung Batik Kauman merupakan kawasan cagar budaya sebagai salah satu bagian dari pembangunan nilai dalam pendidikan ternyata belum sepenuhnya dimanfaatkan. Keberadaan cagar budaya Kampung Kauman di kota Surakarta ini dapat dijadikan sumber belajar yang baik. Pemanfaatan wilayah cagar budaya sebagai sumber belajar belum optimal diterapkan, khususnya untuk membangun pemahaman akan identitas Surakarta sebagai kota yang bersejarah. Hal tersebut di perkuat setelah di keluarkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Benda Cagar Budaya yang dapat dijadikan sebagai warisan budaya yang bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Oleh karena itu, berbagai situs dan peninggalan yang ada tetap dijaga kelestariannya guna mempertahankan nilai-nilai sejarah dan budaya peninggalan dari nenek moyang terdahulu (Setyowati, 2004).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Deskripsi Historis Kampung Batik Kauman Surakarta Asal usul Kampung Batik Kauman berasal dari penempatan posisi tata ruang di lingkungan Keraton abdi dalem “Reh Pengulon”. Dalam kajian konsep raja kejawen, abdi dalem “Reh Pengulon” dipandang sangat strategis untuk perimbangan hidup antara unsur duniawi yang dikembangkan dalam konsep “Sargede”. Abdi dalem “Reh Pengulon” posisinya disebelah barat alun-alun dan Pasar Gede berada di sebelah timur alun-alun. Alun-alun ditafsirkan sebagai arena kehidupan baik duniawi dan akhirat yang bergumul di dalam konsep kehidupan orang Jawa. Kehidupan duniawi (pasar) dilambangkan sebelah timur alun-alun
107
karena mengambil lambang matahi terbit. Kehidupan akhirat diposisikan di sebelah barat dengan lambang matahari terbenam (Anggoro, 2008). Sejarah Kauman tidak terlepas dari Keraton Surakarta. Berdasarkan cerita dari kakek dan nenek, Kauman dahulu kawasan Reh Pengulon sebagai tempat pendidikan agama. Abdi dalem diberikan tempat di bagian barat, di sekitar Masjid Agung (Supriadi, 2 November, 2014). Reh Pengulon bertanggung jawab terhadap urusan-urusan agama termasuk melaksanakan keadilan dalam pertikaian yang terkait dengan hukum Islam. Lembaga ini dipimpin oleh Penghulu Ageng, yaitu kepala alim ulama di Masjid Agung. Penghulu diberi tugas oleh keraton untuk memimpin upacara-upacara keagamaan, berdoa untuk keselamatan raja, memberi pengajaran tentang agama Islam kepada kerabat Raja dan sebagainya (Ramdhon, 2011). Kampung Batik Kauman pada awalnya merupakan wilayah yang diperuntukkan abdi dalem Reh Pengulon. Reh Pengulon mengemban tugas dari keraton dalam bidang keagamaan. Reh Pengulon diberikan tempat tinggal di sebelah barat keraton, di dekat alun-alun utara lebih tepatnya di sebelah barat Masjid Agung. Masjid Agung merupakan pusat aktivitas keagamaan. Kauman merupakan tempat tinggal kaum ulama kerajaan dan kerabatnya yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronnoto dan kaum (abdi dalem). Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama “Kauman”. Istri para ulama diberikan pelatihan khusus dari Keraton Kasunanan untuk membuat batik. Pada akhirnya abdi dalem keraton memesan batik ke Kampung Kauman. Bermodal keterampilan membatik dari keraton, mulai berkembang pengusaha batik-batik rumahan di Kampung Kauman. Setiap hari tercium aroma khas batik di Kampung Kauman. Sampai pada tahun 1995an eksistensi batik mulai surut. Sehingga pengusaha-pengusaha batik mulai berkurang. Masyarakat berkeinginan untuk menghidupkan batik di
108
Kampung Kauman. Sehingga dibentuk sebuah paguyuban yang berperan besar dalam menghidupkan batik di Kampung Kauman. Keberadaan Kampung Batik Kauman Surakarta sebagai kelengkapan dari pembangunan Masjid Agung sebagai pusat syiar agama Islam. Masjid agung dibangun oleh PB III tahun 1757 M. Masjid dibangun raja sebagai kewajiban dalam memimpin rakyatnya. Raja dianggap sebagai Sayyidin Panatagama Khalifatullah, artinya raja sebagai pemimpin negara (kerajaan) dan pemimpin agama agar rakyat hidup damai dan sejahtera. Berdasarkan cerita dari kakek dan nenek, Kauman dahulu kawasan abdi dalem sebagai tempat pendidikan agama. Abdi dalem diberikan tempat di bagian barat, di sekitar Masjid Agung (Bp. Supriadi, 2 November 2014). Pertumbuhan Kampung Kauman dimulai dengan adanya penempatan abdi dalem pamethakan yang bertugas dalam bidang keagamaan dan kemasjidan yaitu Kanjeng Kyai Penghulu Thohar Hadiningrat (penghulu dalem ing keraton Surakarta). Penghulu bermukim di sekitar Masjid Agung. Penghulu membawahi tanah disekitar masjid yang warganya terdiri dari abdi dalem pamethakan dan ulama pembantu/ mewakili tugas penghulu. Tanah yang ditempati adalah pemberian dari Pakubuwono III dengan status tanah anggaduh, yang berarti hanya berhak menempati dan tidak punya hak milik (Pusponegoro, dkk, 2007). Letak Kampung Batik Kauman berdampingan dengan Masjid Agung, di sebelah Barat Alun-Alun Utara. Kampung Batik Kauman dahulu adalah pemasok batik di kota Solo dan Keraton. Hal ini bisa dilihat dari bentuk rumah-rumah yang mempunyai tempat untuk produksi batik sekaligus toko untuk memajang hasil produksinya. Kampung Batik Kauman mempunyai kaitan erat dengan Keraton Kasunanan Surakarta. Kauman merupakan tempat tinggal kaum ulama kerajaan dan kerabatnya yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronnoto dan kaum (abdi dalem). Masyarakat Kauman memperoleh
109
pelatihan khusus dari Keraton Kasunanan untuk membuat batik. Tradisi batik Kauman secara langsung mewarisi inspirasi membatik dari Keraton Kasunanan Surakarta. Masyarakat Kauman mampu menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga Keraton. Abdi dalem mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga kraton (Wawancara, agus, 20 Oktober 2014).
Kesimpulan
a. Kampung Batik Kauman termasuk dalam wilayah Kelurahan Kauman. Kelurahan Kauman terletak di sisi barat depan alun-alun utara. Secara administratif Kauman termasuk wilayah Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Luas wilayah Kelurahan Kauman adalah 20,10 Ha. Kampung Batik Kauman berbatasan dengan jalan Slamet Riyadi di sebelah utara yang merupakan jantung kota Solo. Di sebelah timur berbatasan dengan jalan Pakubuwono, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan jalan Yos Sudarso. Bagian
116
selatan kampung kauman berbatasan dengan jalan Dr.Radjiman. Kauman dahulu kawasan abdi dalem sebagai tempat pendidikan agama. Abdi dalem diberikan tempat di bagian barat, di sekitar Masjid Agung. Kampung Kauman berdiri bersamaan dengan Masjud Agung oleh PB III. Para istri dari abdi dalem di beri tugas dari keraton untuk membuat batik keraton. Keterampilan membatik di dapat dari keraton melalui pelatihan khusus.
uns.ac.id
fkip.uns.ac.id
jurnal.uns.ac.id
wcu.uns.ac.id
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sejarah/article/view/12090/8590
Komentar
Posting Komentar